
Jakarta, gmt-2000.com Indonesia
—
Tanaman ganja penuh kontroversi di Indonesia. Beberapa orang menyebut tanaman ini baik untuk kesehatan karena bisa jadi obat, sementara pihak lainnya kontra karena efek halusinasi yang timbul saat menghisap lintingan ganja.
Namun demikian, di balik kontroversi itu semua, ternyata ada fakta yang jarang orang tahu dari dampak ganja, yakni terkait kelangsungan iklim dunia.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa industri budidaya ganja, terutama yang dikembangkan dalam ruangan, merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang kerap luput dari perhatian publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setidaknya penelitian dari lembaga dan universitas menunjukkan pola yang sama: cara ganja diproduksi berdampak langsung terhadap perubahan iklim.
Emisi setara 10 juta kendaraan
Evan Mills, peneliti afiliasi di Lawrence Berkeley National Laboratory, menerbitkan pemutakhiran paling komprehensif terkait hal ini di jurnal One Earth pada Maret 2025.
Dengan melakukan life cycle assessment terhadap seluruh rantai produksi ganja AS, dari budidaya hingga pembuangan limbah, Mills menemukan bahwa industri ini menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 44 juta ton CO2 per tahun.
Angka itu setara dengan emisi 10 juta kendaraan atau 6 juta rumah tangga, dan mewakili sekitar 1 persen dari total emisi nasional AS di semua sektor. Biaya energinya mencapai US$11 miliar per tahun.
“Pabrik tanaman tanpa jendela dan rumah kaca berteknologi tinggi jauh lebih boros energi dibandingkan dengan budidaya di lahan terbuka, bangunan konvensional, dan beberapa industri,” kata Mills dalam jurnalnya.
Dua pertiga dari 24.000 ton ganja yang diproduksi setiap tahun, baik legal maupun ilegal, ditanam di dalam ruangan tertutup, menggunakan pencahayaan buatan, sistem pengatur suhu dan kelembapan, serta irigasi yang semuanya menyerap listrik dalam jumlah masif. Sekitar 90 persen emisi industri ini bersumber dari operasi budidaya indoor tersebut.
Konsumsi listrik industri ganja AS bahkan melampaui sektor penambangan mata uang kripto maupun gabungan seluruh sektor pertanian lainnya. Bagi pengguna harian yang mengonsumsi ganja hasil budidaya dalam ruangan, jejak karbon dari kebiasaan itu bisa mencapai hampir setengah dari total konsumsi energi seluruh rumah tangga mereka.
Lebih besar dari emisi tambang batu bara
Riset dari Colorado State University yang terbit di jurnal Nature Sustainability juga memberikan gambaran lebih terperinci. Jason Quinn, salah satu penulis studi sekaligus Direktur Sustainability Research Laboratory di universitas tersebut, menyampaikan bahwa di Colorado, budidaya ganja dalam ruangan menyumbang sekitar 1,7 persen dari total emisi gas rumah kaca tahunan negara bagian itu.
Angka tersebut sebanding dengan emisi dari sektor penambangan batu bara. Penyumbang terbesar emisi tersebut adalah sistem pemanas, ventilasi, dan pendingin udara (HVAC) untuk menjaga kondisi optimal tanaman, lampu tanam berintensitas tinggi, serta penggunaan karbon dioksida tambahan guna memacu pertumbuhan.
Studi yang sama juga membandingkan emisi ganja dengan produk konsumsi lain. Emisi dari 0,1 gram ganja, kira-kira sepertiga dari satu linting, kemungkinan besar melampaui emisi dari segelas bir, anggur, minuman keras, kopi, maupun sebatang rokok.
“Kami sangat terkejut melihat betapa besar dampaknya,” kata Quinn, melansir
Reuters
.
Lokasi budidaya turut menentukan skala emisi. Memproduksi satu ons (28 gram) ganja kering di Oahu timur, Hawaii, menghasilkan emisi setara dengan membakar sekitar 60 liter bensin, lebih dari dua kali lipat dibanding memproduksi jumlah yang sama di California selatan.
(dmi)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video gmt-2000.com]
Baca lagi: Bangkit dari Lubang Kelam: Kisah Para Seleb Hollywood Lepas Narkoba
Baca lagi: Jokowi Yakin PSI Masuk Parlemen di Pemilu 2029
Baca lagi: Prabowo Sebut Posisi Strategis dalam Kabinetnya Banyak Diisi Profesor

10 Responses
Wah, tulisannya ngebantu banget buat nambah insight baru. Barusan saya juga nemu https://app.opencve.io/cve/CVE-2008-5725 yang ngulas materi kayak gini dengan detail yang nggak kalah oke.
Penulisan artikelnya sangat runut sehingga mudah dipahami. Saya juga ingin berbagi tautan https://www.intensedebate.com/people/bong88living1 di sana ada tulisan serupa yang bisa dijadikan rujukan tambahan.
Terima kasih atas ulasan yang sangat informatif. Selain artikel ini, saya juga sempat membaca beberapa informasi melalui https://cloudlinks.sos-ch-dk-2.exo.io/news/86enw5a3a/local-news-online.html.
Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kebutuhan informasi saya saat ini. Selain artikel ini, saya juga menemukan rujukan pendukung di https://www.sitelike.org/similar/naijahall.com.ng/ yang membahas isu terkait secara ekstensif.
Wah, gila sih penjelasannya clear banget! Btw, kemaren gw juga nemu referensi tambahan di https://pxhere.com/tr/photographer/4505044 bahasannya mirip-mirip dan oke juga buat dibaca.
Pemaparan dalam artikel ini sangat terstruktur dan menambah wawasan saya secara signifikan. Sebagai referensi komparatif, tautan https://pxhere.com/de/photographer/4505044 juga menyajikan kajian yang selaras dan patut untuk disimak.
Bener-bener membuka wawasan baru nih. Makasih sharing-nya! Kebetulan saya juga nemu bahan bacaan yang relate banget di https://www.evilmadscientist.com/forums/users/sbourgx/ cekidot aja guys.
Artikel ini memiliki karakteristik sebagai dokumen literasi mendalam yang mampu menaikkan standar daya kritis masyarakat https://www.ifixit.com/Guide/Tennis+Racquet+Grip+Tape+Replacement/88945
Tulisannya runtut dan logis, enak dibacanya. Sebagai tambahan informasi aja nih, web https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=304681 juga ngebahas topik ini dari sisi yang berbeda.
Wah, tulisannya daging semua nih. Makasih sharing-nya min! Btw kalau ada yang mau cari referensi tambahan, cek aja di https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=290513 karena mirip-mirip pembahasannya.